Sakitkah Kita?

0
56

“Kang, apakah benar ungkapan “Om Telolet Om” sangat terkait dengan agama tertentu?” Tanya seorang anak muda dengan pertanyaan menyelidik.

Saya sungguh heran dengan pertanyaan itu? Sama herannya saat uang baru, dikait-kaitkan dengan agama dan kadar kepahlawan dari foto yang terdapat dalam uang baru itu. Apakah kita ini sungguh kurang kerjaan? Ataukah memang kita sangat kritis, yang mempertanyakan segala sesuatu? Atau justru kita telah berubah menjadi orang yang penuh kecurigaan?

Saat sesuatu yang sederhana, sesuatu kegembiraan, dipandang dari sudut penuh curiga maka yang muncul adalah pikiran negatif. Dan akumulasi dari pikiran negatif akan melahirkan sikap yang pesimis, sikap yang miskin kepercayaan. Jadi, sangat wajar ketika otoritas moneter mengeluarkan uang baru, maka perbicangannya menjadi siapa sosok yang muncul di lembaran uang tersebut. Dan isu sara pun dihembuskan ke permukaan.

Ah, saya tidak tahu lagi siapa yang salah. Apakah kita sebagai rakyat yang sudah sumpek dengan segala sesuatu? Ataukah otoritas negara ini yang telah kehilangan kewibawaan sehinga kita menjadi masyarakat pencuriga? Ataukah kita sudah menjadi masyarakat yang sakit? Sungguh saya tidak paham. Sama tidak pahamnya mengapa “Om Telotet Om” menjadi perbincangan. Tabik. (#catatanHK, ngacapruk subuh).